Visitor Map

Minggu, 22 Juli 2012

Amalan tirakat

Sumber: www.nu.or.id

Pesantren Santri Perlu Perkuat Riyadlah Print Download Send Share Senin, 09/07/2012 09:20 Tags: Santri Tirakat Space Iklan 300 x 80 Pixel Jepara, NU Online Para pencari ilmu atau santri yang mondok di pesantren perlu memperkuat riyadlah atau tirakat. "Ulat yang ingin menjadi kupu-kupu pun melakoni jalan tirakat. Manusia pun harus begitu." Demikian dikatakan KH Mahrus Ali dalam Tahtiman Pesantren ‘Roudlotul Huda’ dan ‘Roudlotul Hidayah’ desa Margoyoso kecamatan Kalinyamatan, Jum’at sore (06/7) kemarin. Menurut Ketua PC LDNU Jepara itu, ulat yang kelak menjadi kupu-kupu adalah sebuah proses yang meski dilalui. "Dalam berproses tentu akan menemui banyak kendala. Begitu pun dengan seorang santri yang mondok. Riyadlah juga perlu dilakukan sehingga kelak akan menuai hasilnya," jelasnya. Kiai Mahrus menyebut tiga hal yang wajib dilakukan santri. Pertama, Takhalli. Artinya, sebagai santri jasmani dan rohaninya harus bersih dan terhindar dari sifat madmumah (tercela). Berkait hal itu, ia menyontohkan tumbuhnya ilmu dalam pribadi seorang berbada-beda. Hal itu, terkait kualitas santri masing-masing. “Ilmu itu termasuk barang yang suci. Ia suka ditempat yang suci. Jika ilmu menempati orang yang tidak suci maka ilmu tidak kerasan menempatinya,” paparnya. Dia bercerita, auatu ketika, ada seorang santri mondok selama tujuh tahun. Tetapi pelajaran yang santri peroleh belum ada yang nyantol sama sekali. Akhirnya, santri ngaji lagi dengan kyai Mahrus. Usut punya usut ternyata si santri punya kebiasaan mengintip santri putri saat sedang mandi. Ia juga memberikan contoh lain tentang sucinya ilmu. Seorang santri yang tidak terima diingatkan kyainya lantaran mengenakan pakaian yang tipis. Dilain hari kyai melakukan hal sama dan santri gantian yang mengingatkan kyai. Juga Simbah Ma’shum yang perokok berat apabila melihat santrinya merokok malah diharamkan. “Semua yang disampaikan dan dilakukan kiai ada maksud tersendiri. Sebagai santri tidak perlu berprasangka buruk kepada kiainya,” jelasnya. Kedua, Tahalli. Sebagai santri hendaknya menghiasi diri dengan sifat mahmudah (terpuji). Ketiga, Tajalli. Santri harus terbuka mata hatinya menerima nikmat yang diberikan Allah SWT. Malam harinya, di tempat yang sama diadakan Haflah Attasyakur Lil Ihtitam dengan menghadirkan KH Syarafuddin dari Rembang. Dalam taushiyahnya santri tidak perlu khawatir akan jadi apa dan makan apa. Yang terpenting baginya adalah ilmu yang berkah dan manfaat. “Rizki sudah ada jatahnya masing-masing. Sebab pembagian rizki sudah ditanggung oleh Allah SWT. Rizki ada yang paten ada juga yang bonus,” ungkapnya. Ayam sebagaimana ia menyontohkan tidak pernah mengeluh untuk mencari makan. Dapat apapun ia terima. Oleh karena itu, semua lanjutnya hendak dihaturkan kepada Allah.
Dihimpun oleh Kiyai Sayyidah Budaya Tirakat dan Santri Masa Kini http://hiburansunyi.blogspot.com Pada suatu hari, saya ditelpon teman lama dari desa. Katanya, dia sedang menjalankan sebuah ritual tirakat di komplek pemakaman para wali kuno, Segoropuro Pasuruan. Dalam rangka mendapatkan ilmu agama (jadi orang alim) dengan jalan pintas tanpa pendidikan formal. Konon, katanya dia adalah santri yang frustasi terhadap pendidikan formal. Sebab, dia merasa sebagai orang yang paling bodoh di pesantrennya. Asta Segoropuro adalah sebuah komplek pemakaman umum para wali kuno, seperti Sayyid Arif, dan lainnya. Asta dan gua memang biasa menjadi tempat khusus bagi mereka yang menyepikan diri dari keramaian dunia. Kalau di Madura tempat-tempat semacam itu seperti, pasarean Syakhuna Kholil Bangkalan, Asta Tinggi Sumenep, Sayyid Yusuf Talango, dan lainnya. Merujuk pada sejarah, menyepi dalam tradisi Islam dikenal dengan Uzlah atau khalwat, dan sudah muncul sejak zaman para nabi, sekaligus banyak dilakukan oleh para ulama klasik terutama ketika sistem kepemimpinan Islam berganti dalam bentuk dinasti yang rajanya diangkat dengan sistem keturunan. Dimana saat itu orang-orang, baik dari kalangan pejabat, ilmuwan, lebih-lebih golongan agamawan banyak yang kecewa terhadap sistem tersebut yang cenderung disesakkan oleh urusan politik, perebutan kekuasaan, dan serba kesenangan dunia. Akhirnya mereka lebih memilih sikap hidup dengan mengasingkan diri ke tempat-tempat sepi menghususkan diri hanya untuk bertaqarrub kepada Allah SWT. Konon, gaya hidup mistis bermotif politik itu disinyalir menjadi salah satu sebab kemunduran kejayaan Islam, lebih-lebih setelah tumbangnya dinasti Abbasyiah. Dalam Islam orang yang ber-khalwat tersebut dikenal dengan sufi atau darwis. Sebagaimana dalam kitab klasik para ulama sepakat, bahwa jalan (Tarekat) menuju Allah itu ada empat cara: pertama, duduk di tengah-tengah manusia dan mengajak mereka kepada kebenaran seperti, menjadi guru dan muballig. Kedua, memperbanyak ibadah-ibadah formal, seperti memperbanyak dzikir, sholat, dan puasa. Ketiga, Menjadi abdi (pembantu/khoddam/ngebuleh) para ahli agama atau fuqaha. Dan keempat, mencari nafkah yang halal demi kebutuhan keluarga sehari-hari. Nah, jalan yang kedua itulah yang ditempuh oleh mereka yang bertirakat. Selain itu, ada juga yang bertujuan hanya untuk mendapatkan ilmu-ilmu dunia, kesaktian, kedigdayaan, senjata-senjata kramat, dan sejenisnya. Biasanya dilakukan oleh orang yang mengalami persoalan terlalu rumit dalam hidup atau frustasi. Seperti ingin kaya pintas, kebal, dan sejenisnya yang lebih bersifat kedunawian. Tujuan ini terjadi di tengah-tengah masyarakat pada umumnya. Dalam dunia pesantren istilah tirakat menjadi khasanah dan lumrah. Biasa dilakukan oleh sebagian santri sekaligus kiai. Bahkan ada sebuah pesantren yang sistem dan orientasi pendidikannya mengacu pada ajaran tirakat; semacam mengamalkan puasa mutih atau menyepi di asta sesepuh kiai dengan mengamalkan bacaan-bacaan khusus yang di-jaza’ oleh kiainya. Dan biasanya, tujuannya adalah ingin memperoleh kecerdasan atau kualitas diri tanpa melalui usaha akademik formal, seperti ilmu ladunni. Disamping itu, secara umum ada juga yang dilakukan di masjid-masjid atau musholla. Sekaligus ada yang berbentuk sejenis organisasi resmi seperti, tarekat tijaniyah, dan lainnya. Mengingat fenomena di atas, saya menjadi ingat dan sangat tertarik kepada pandangan seorang penulis pada rublik yang sama yang menyinggung soal ini, “melejitkan Intelejensi dengan jampi-jampi”. Yaitu ketika dia berandai, dengan hanya membaca jampi-jampi (baca; sekitar tirakat) orang menjadi pintar tanpa baca buku dan sekolah formal, yang diperkuat dengan penemuan penelitian-penelitian tentang adanya pengaruh kuat bacaan-bacaan mistis terhadap partikel air. Dan saya percaya pembuktian dan pandangan tersebut. Hal tersebut memang biasa dilakukan dalam dunia pesantren. Hanya saja, ketika saya melihat situasi dan kondisi zaman sekarang, saya berpikir: Apakah pantas kiranya di zaman yang serba canggih, sistematis, dan rasional ini (baca: modern) kita butuh tirakat semacam yang mistis-mistis tersebut. Bayangkan saja, bila ada seorang santri masa sekarang dengan kesibukan akademik formal yang dia jalankan setiap hari di pesantrennya; pelajaran kelas yang super full pagi siang; masih ada acara ekstrakurikuler; lalu acara-acara kelompok pilihan; belum lagi tugas-tugas organisasi dan pribadi yang harus diselesaikan. Mampukah dia melakukan semuanya dengan puasa mutih setiap hari atau dengan amalan-amalan doa yang banyaknya tidak cukup dibaca lima jam. Saya yakin santri tersebut akan loyo dan klenger. Bagaimana tidak, perutnya kosong dan sibuk hanya mengamalkan amalan-amalan abakadabra yang tidak boleh tidak-dan kalau tidak-akan sia-sia bahkan menjadi gila. Akhirnya, dia akan menjadi generasi yang lembek, bodoh, dan ketinggalan. Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada kita, bahwa orang muslim sejati (lebih-lebih santri sebagai generasi) adalah “dia yang di siang seperti penunggang-penunggang kuda yang gagah berani dan di malam hari seperti para rahib yang khusu’ bermunajat kepada Tuhannya”. Artinya, para santri sejati adalah mereka yang di siang hari menjadi pencari dan pejuang ilmu yang gagah berani, penuh usaha keras, belajar serius, niat yang lurus dan cita-cita yang tinggi. Untuk itu, dia harus cukup makan penuh gizi agar mampu usaha keras dan belajar serius, sekaligus bangun di malam hari dengan dzikir dan tahajjudnya (syahirullayali). Akhirnya dia akan menjadi generasi yang kuat, gagah, cerdas, sekaligus alim. Subhanallah. Saya kira begitulah seharusnya tirakat santri dalam konteks modern ini. (Pernah dimuat di Radar Madura, Jawa Pos Group). Dihimpun oleh Kiyai Sayyidah HUKUM PUASA PATI GENI DAN TIRAKAT http://www.piss-ktb.com PERTANYAAN Puasa mutih, Puasa ngrowot,Puasa patigeni, boleh apa tidak?? Apakah tidak termasuk wishol yang dilarang? JAWABAN Setiap puasa yang dilakukan sesuai dengan hukum syara’ yang tidak tuntunan pelaksaannya, masuk dalam kategori puasa sunah mutlak, dan niatnya adalah puasa mutlak. Dengan demikian, selama pelaksanaan puasa patigeni tidak mengandung hal-hal yang dilarang dalam agama, maka puasa tersebut termasuk puasa sunah mutlak. أسنى المطالب - (ج 5 / ص 281) ( وَتَكْفِي نِيَّةٌ مُطْلَقَةٌ فِي النَّفْلِ الْمُطْلَقِ ) كَمَا فِي نَظِيرِهِ مِنْ الصَّلَاةِ ( وَلَوْ قَبْلَ الزَّوَالِ لَا بَعْدَهُ ) { لِأَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِعَائِشَةَ يَوْمًا هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ غَدَاءٍ قَالَتْ لَا قَالَ فَإِنِّي إذًا أَصُومُ قَالَتْ وَقَالَ لِي يَوْمًا آخَرَ أَعِنْدَكُمْ شَيْءٌ قُلْت نَعَمْ قَالَ إذًا أُفْطِرُ وَإِنْ كُنْت فَرَضْت الصَّوْمَ } رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ وَصَحَّحَ إسْنَادَهُ “Dalam puasa sunah mutlak (yang tidak terkait dengan puasa wajib dan sunah), cara niatnya cukup dengan niat yang mutlak (umum), sebagaimana niat pada salat sunah mutlak. Meskipun letak niatnya sebelum dzuhur, dan tidak boleh setelah dzuhur. Karena Rasulullah Saw suatu hari berkata pada Aisyah: “Apa ada sarapan pagi?” Aisyah menjawab: “Tidak ada.” Nabi berkata: “Kalau begitu saya puasa.” Aisyah menyebutkan: Suatu hari yang lain Nabi bertanya pada saya: “Apa ada sarapan pagi? Saya menjawab:“Ada.” Nabi berkata:“Kalau begitu saya tidak puasa, meski saya perkirakan berpuasa.” Puasa patigeni (puasa 24 jam) tidak termasuk puasa wishal yang dilarang oleh Rasullah Saw. karena puasa wishal yang dilarang adalah berpuasa selama 2 hari (48 jam). المجموع - (ج 6 / ص 357-359) وعن ابي سعيد الخدرى انه سمع النبي صلي الله عليه وسلم يقول " لا تواصلوا فأيكم ارد ان يواصل فليواصل إلى السحر قالوا فانك تواصل يارسول الله قال إنى لست كهيأتكم اني ابيت لى مطعم يطعمنى وساق يسقيني " رواه البخاري قال أصحابنا وحقيقة الوصال المنهي عنه أن يصوم يومين فصاعدا ولا يتناول في الليل شيئا لا ماء ولا مأكولا فان أكل شيئا يسيرا أو شرب فليس وصالا وكذا إن أخر الاكل الي السحر لمقصود صحيح أو غيره فليس بوصال وممن صرح بأن الوصال أن لا يأكل ولا يشرب ويزول الوصال بأكل أو شرب وان قل صاحب الحاوى وسليم الرازي والقاضى أبو الطيب وامام الحرمين والشيخ نصر والمتولي وصاحب العدة وصاحب البيان وخلائق لا يحصون من اصحابنا “Rasul bersabda: Janganlah kalian melakukan puasa wishal. Barangsiapa diantara kalian ingin melakukan wishal, maka lakukanlah hingga waktu sahur (sehari semalam). Para sahabat bertanya: Anda juga melakukan wishal, wahai Rasul? Rasul menjawab: Saya tidak sama dengan kalian. Di saat malam, ada yang memberi makan dan minum kepada saya.” (HR Bukhari) Para ulama madzhab Syafii menjelaskan bahwa hakikat puasa wishal yang dilarang adalah puasa dua hari atau lebih tanpa mengkonsumsi makanan dan minuman. Jika seseorang mengkonsumsi makanan atau minuman sedikit saja, maka tidak disebut wishal. Diantara ulama yang menjelaskan bentuk puasa wishal seperti definisi ini adalah Al Mawardi, Salim Al Razi, Qadhi Abu Thayyib, Imam Haramain dan lain lain. اسعاد الرفيق 2- 14 ومنها اى معاصى البدن الوصال فى الصوم ولو نفلا للنهى عنه وفسره فى المجموع نقلا عن الجمهور بان يصوم يومين فاكثر من غير تناول مطعوم عمدا بلاعذر ...الى ان قال... قال الرويانى ولو فعل الوصال لا على قصد التقرب به لم يأثم كما فى الفتح واصله . “Diantara perbuatan maksiat tubuh adalah puasa wishal meskipun untuk puasa sunah. Sebab Rasulullah melarang jenis puasa seperti ini. Sebagaimana diterangkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Majmu’nya, puasa wishal adalah puasa selama dua hari atau lebih tanpa mengkonsumsi makanan secara sengaja dan tanpa udzur…. Imam Ruyani mengatakan bahwa bila seseorang melakukan puasa wishal tanpa bertujuan mendekatkan diri kepada Allah, maka dia tidak berdosa (boleh).” Dihimpun oleh Kiyai Sayyidah

1 komentar: